Kenapa Sekarang Cuaca Kembali Terasa Panas? Berikut Penjelasan BMKG

Advertisement

Masukkan script iklan 970x90px

Kenapa Sekarang Cuaca Kembali Terasa Panas? Berikut Penjelasan BMKG

Minggu, 24 Desember 2023

Kenapa Sekarang Cuaca Kembali Terasa Panas? Berikut Penjelasan BMKG


basa-basi.biz.id - Seiring berjalannya waktu, fenomena perubahan iklim semakin menjadi fokus utama dalam pemahaman dan kajian ilmiah. Dalam beberapa hari terakhir, Deputi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, mengonfirmasi bahwa suhu udara di beberapa wilayah Indonesia mengalami peningkatan. Sebelumnya, warganet telah mengeluhkan perubahan cuaca yang terasa semakin panas, mengundang rasa keheranan di kalangan masyarakat, karena sebelumnya mereka merasakan kesejukan setelah turun hujan.

Peningkatan suhu dan variasi cuaca yang tidak menentu di Indonesia merupakan hasil dari dinamika atmosfer yang kompleks. Berbagai faktor, termasuk dampak dari fenomena El Nino dan mode dipol positif, serta fluktuasi suhu permukaan laut dan distribusi curah hujan yang tidak merata, turut berperan dalam menciptakan kondisi ini. Guswanto menjelaskan bahwa potensi curah hujan rendah dapat teridentifikasi melalui analisis kondisi iklim global.

Salah satu faktor penentu adalah fenomena El Nino, yang memiliki dampak signifikan terhadap sistem iklim global. El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik Tengah dan Timur menjadi lebih hangat dari biasanya. Akibatnya, terjadi perubahan besar dalam pola cuaca global. Guswanto menyoroti bahwa analisis kondisi iklim global menunjukkan adanya pengaruh El Nino yang dapat memicu penurunan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Selain El Nino, mode dipol positif juga menjadi faktor penting dalam menentukan variasi iklim di Indonesia. Mode dipol positif terjadi ketika perbedaan suhu antara wilayah selatan dan utara Samudra Hindia meningkat. Hal ini dapat mempengaruhi distribusi curah hujan di wilayah sekitarnya. Guswanto menjelaskan bahwa pemantauan suhu permukaan laut menjadi kunci dalam memahami dampak dari mode dipol positif terhadap iklim Indonesia.

Analisis lebih lanjut terhadap curah hujan yang tidak merata dilakukan melalui pendekatan regional, dengan memperhatikan outgoing long wave radiation, medaden Julian oscillation, dan aktivitas gelombang ekuator. Hasil analisis per tanggal 16 Desember 2023 menunjukkan bahwa potensi curah hujan yang tidak merata dapat terlihat dari variasi yang signifikan dalam komponen-komponen tersebut.

Outgoing long wave radiation (OLR) menjadi indikator penting dalam memahami pola curah hujan di suatu wilayah. Guswanto menjelaskan bahwa data OLR memberikan gambaran tentang seberapa efisien suatu daerah dalam memancarkan radiasi panas ke luar angkasa. Dengan memperhatikan data OLR, dapat terlihat bahwa ada wilayah di Indonesia yang mengalami peningkatan efisiensi dalam memancarkan radiasi panas, yang dapat diindikasikan sebagai potensi curah hujan rendah.

Medaden Julian oscillation (MJO) juga menjadi elemen kunci dalam analisis curah hujan. MJO merupakan siklus atmosferik yang mengalir di sepanjang khatulistiwa dan dapat mempengaruhi pola hujan di berbagai belahan bumi. Guswanto menyatakan bahwa observasi MJO menunjukkan variasi signifikan dalam aktivitas curah hujan di Indonesia, yang dapat berkontribusi terhadap ketidakmerataan curah hujan.

Selain itu, aktivitas gelombang ekuator juga menjadi bagian integral dari pemahaman terhadap dinamika iklim regional. Guswanto menjelaskan bahwa gelombang ekuator dapat mempengaruhi pola cuaca di sekitarnya dan menciptakan daerah konvergensi, di mana massa udara bertemu dan dapat memicu hujan. Namun, pantauan menunjukkan bahwa daerah konvergensi hanya terjadi pada sejumlah wilayah tertentu, memberikan gambaran lebih lanjut tentang ketidakmerataan curah hujan di Indonesia.

Dalam konteks ini, pemerintah dan para peneliti di bidang meteorologi dan iklim perlu bekerja sama untuk mengembangkan strategi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Pemahaman mendalam terhadap dinamika atmosfer, fenomena El NiƱo, mode dipol positif, dan faktor-faktor lainnya dapat menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan yang efektif dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.

Penelitian lanjutan dan pemantauan terus-menerus terhadap perubahan iklim menjadi esensial untuk menyusun langkah-langkah yang tepat guna. Guswanto menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat, guna menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan. Dengan demikian, Indonesia dapat lebih siap menghadapi tantangan iklim yang dihadapinya, meminimalkan dampak negatif, dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim di masa depan. (as)





Keyword:


#cuaca panas, #cuaca kembali panas, #el nino, #dampak el nino, #gelombang laut